Sabtu, 07 Maret 2020

Semesta Berbaik Hati, Pada Waktunya

#02
         Wajahnya cantik, benar kata orang-orang. Ia memakai kaos merah dengan jaket jeans dan celana berwarna coklat, kontras dengan kulitnya yang putih. Sepatu casualnya terlihat cantik di kakinya. Ia menampilkan senyumnya saat berhadapan denganku. Sungguh memang definisi Rinjani yang elok.
            “Udah nunggu lama kak?” tanyanya.
            “Engga kok baru sebentar” jawabku.
            “Eh iya kenalin nama aku Rinjani”
            “Aku Genta”
            “Maaf ya kak jadi ngerepotin” ucap Rinjani. Lalu entah kenapa kakiku melangkah begitu saja, padahal tidak tahu juga akan kemana. Dia hanya mengikuti langkahku saja, entah kenapa juga dia tidak bertanya apapun.
            Akhirnya kakiku berhenti di perpustakaan. Hari ini perpustakaan sepi, hanaya da 3-4 orang sedang mengerjakan tugas sepertinya. Aku pun memilih meja di belakang rak sastra, meja favoritku. Dengan kaca besar yang memperlihatkan kegiatan diluar dan dibawah sana, menampakan langit biru atau terkadang sendunya langit beserta rintik atau besar hujannya. Lagi-lagi dia hanya mengekor padaku, duduk didepanku.
            “Emangnya kamu minta bantuan ke pak Wira buat kkn kamu?” tanyaku.
         “Engga kak, pak Wira yang menyarankan. Terutama buat ketentuan bikin laporan kkn nya, memilih tempatnya dan hal-hal yang detail lainnya” jawab Jani.
            “Ohh, jadi belum dapet tempatnya?” tanyaku.
            “Belum kak, kan kuliahnya juga baru mulai” dia menjawab sambal tersenyum, manis.
            “Pak Wira bilangnya udah soalnya” aku menjawab.
            “Baru ada rencana aja kak ke beberapa tempat”
            “Mau tentang apa emangnya?”
        “Tentang pendampingan tumbuh kembang anak-anak kak” jawabnya lagi sambil tersenyum dengan manis.
            “Terus rencana tempatnya?” tanyaku.
            “Lingkungan sekolah yang memang melibatkan banyak pertemuan aktif sama orangtua kak”
            “Aku nanya nama tempatnya”
            “Sekolah Mutiara Buah Hati, sekolah buat anak SD-SMP” jawab Jani.
            “Udah masuk surat izinnya? Itu plan utama kamu? Mau langsung coba plan utama?” tanyaku
            “Iya kak, udah aku masukin surat izinnya. Balasan nya lewat email, sore ini”
            “Kamu sendiri kkn nya?”
            “Sama 3 temen lainnya kak”
            “Siapa?”
            “Oka, Nanda, sama Ira”
          “Yaudah ini nomor aku, kalau perlu bantuan chat aja. Kirim bukti surat izin kamu disetujui atau enggak ke nomor ini” aku menjelaskan, kemudian memebrikan secraik kertas yang berisikan nomorku.
            “Iya kak, makasih” senyumnya tetap manis.
            “Ada yang mau ditanyain lagi?” tanyaku.
      “Gak ada kak, makasih banyak” senyumnya memang indah. Aku mengangguk kemudian meninggalkannya dimeja itu.
        Hanya saja sebenarnya aku memperhatikannya dari jauh, dari balik rak-rak buku yang menjulang tinggi itu. Jani tampak lurus menatap kedepan, aku tidak tahu seperti apa sorot matanya. Tidak lama kemudian ia menidurkan kepalanya di meja, menghadap kaca transparent yang besar itu. Padahal beberapa menit yang llau, senyumnya begitu manis, ceria gurat wajahnya, gerak-gerik tubuhnya pun terlihat ringan. Lalu kenapa sekarang ia seolah menanggung beban yang begitu berat? Jani yang aku lihat beberapa menit lalu seperti berganti begitu saja entah dengan siapa.
***
            Sudah lebih dari 3 minggu aku membantu atau bisa dibilang membimbing Jani. Surat izin dia ternyata disetujui, sesekali juga aku menemaninya di sekolah tersebut. Jani terlihat riang jika dikumpulkan dengan anak-anak SD yang masih menggemeaskan itu, lalu ia juga terlihat sebagai sosok kakak jika disandingkan dnegan anak-anak SMP. Sungguh dia adalah perempuan yang cantik dengan segala karakter dirinya. Meskipun terkadang, memang masih terlihat sorot matanya yang kosong, atau Jani yang tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sendu.
            “Jani” panggilku saat ia tengah di kantin dnegan buku dan minumannya, disampingnya telihat Ira, dan temn-temannya. Kemudian aku pun duduk di sebelahnya.
            “Kak Genta mau ikut lagi?” tanya Ira.
            “Kalian berangkat jam berapa emangnya?” tanyaku.
            “20 menitan lagi berangkat lah kira-kira. Tapi kalau Jani nyusul katanya, dia mau nyari buku dulu buat anak disana” Ira menjelaskan.
            “Buku?” aku menatap Jani, meminta jawaban.
            “Iya, kamu tau Bella? Anak SD kelas 3, dia suka baca buku” jawabnya.
            “Nanti yang lain iri dong” jawab Ira.
           “Ya aku kasihnya diem-diem, aku rasa dia gak kayak anak SD pada umumnya, yang riang. Dia nyembunyiin sesuatu” Jani menjelaskan.
            “Apa?” tanya Ira lagi.
            “Ya itu lagi aku cari tahu Ira sayang” jawab Jani lagi.
      “Yaudah kamu sama aku aja nyari bukunya, nanti biar kesekolahannya bareng” ucapku menawarkan.
            “Tar aku ngerepotin” Jani menatapku.
      “Engga lah, aku juga gak ngapa-ngapain lagian. TA ku juga bentar lagi rampung” aku menjelaskan.
            “Enak ya kak” ucap Ira.
            “Iya maka nya kalian semangat. Jangan panggil kak dong, masih muda nih gua” ucapku.
            “Iya-iya, eh tapi kenapa lu cuman bilang aku kamu ke Jani aja?” tanya Ira iseng.
        “Kepo ah, udah ah gua mau lapang basket dulu bentar. Yuk Jan, biar gak kelamaan nyari bukunya” ajakku. Kemudian Jani mengangguk dan berpamitan pada teman-temannya.
            Kami berjalan beriringan, sesekali mata kami saling bertemu. Aku juga mahasiswa jurusan psikologi tentunya, tapi entah kenapa sikap Jani yang sendu dan riang rapih tersimpah, tanpa ce;a berganti. Seolah-olah, memang smeua itu adalah hal yang wajar.
            “Hai Jani” ucap teman-temanku bersamaan.
            “Hai kak” Jani menjawab dengan sopan.
            “Nih, baca yang bener, buruan TA selesaiin” aku bebricaya pada Jerry.
            “Iya bos siap, makasih ye” ucap Jerry.
        “Yaudah sana pada masuk kelas, 2 menit lagi lu pada telat entar. Tar kena omel lagi” aku memberitahu teman-temanku.
        “Iye, udah yuk kelas ah” ucap Jerry menagjak yang lain, kemudian mereka pergi. Baru saja kakiku dan kaki Jani akan melangkah meninggalkan tribun lapangan, hujan rintik-rintik turun, tidak deras tapi jika di lawan akan cukup membuat pakaianku dan Jani basah. Aroma petrichor tercium menenangkan. Tentu aku dan Jani menghentinkan langkah kami.
           Baru saja aku ingin mengucap, namun tingkah Jani membuatku mengurungkan niatku itu. Jani mengulurkan tangannya, membiarkan tangannya basah dijatuhi rintik hujan. Sekedar informasi, lapangan basket di kampusku ada dua. Satu yang sedang kami pijak, dnegan lapangan terbuka dan bisa dibilang lapangan serbaguna, ada ring basket, gawang, dan tiang-tiang yang bisa lepas pasang, tiang tersebut untuk net Volly biasanya. Satu lagi lapangan khusus basket, indoor nyaman. Hanya saja aku dan teman-temanku lebih suka nongkrong di lapangan terbuka, salah satu alasannya karena ada yang merokok diantara kami.
       Jani mengulurkan tangannya, kemudian menghirup dalam-dalam aroma petrichor. Matanya terpejam, seperti menenangkan diri, meredam segala apa yang terpendam. Kemudian sesimpul senyuman itu menghiasi bibirnya. Senyumnya indah, manis namun secara bersamaan terlihat sendu.
            “Coba deh, enak tau” tiba-tiba di berbicara.
            “Apa?” aku tidak mengerti.
        “Hirup dalem-dalem, tutup matanya, ulurin tangannya. Rasain, semesta lagi bekerja dengan semua kisah bermiliaran manusia yang tanpa ampun meminta dan berharap, juga bagusnya berjuang” dia menjelaskan dengan posisi yang masih sama. Kemudian aku pun melakukan apa yang dikatakannya. Memang benar, tenang rasanya menikmati semesta bekerja.
          “Hujan nya makin deres, yuk naik ke tribun atas” ucapku pada Jani. Kemudian dia membuka matanya dan mengikutiku.
            “Aku boleh tanya sesuatu gak?” tanyaku saat dirinya sedang menatap lurus kedepan.
            “Apa?”
            “Kenapa senyum kamu dan sedih kamu berada dalam waktu yang bersamaan tadi?” tanyaku.
            “Maaf aku lancing” aku menambahkan.
        “Karena Rinjani yang sebenernya memang begini, yang punya sisi sedih juga yang kadang pengen oranglain tahu juga. Biar aku punya pegangan” jawabnya.
           “Boleh aku jadi pegangan kamu, dan memegang kamu?” tanyaku, ah sial entah kenapa hari ini aku seberani ini. Padahal sebelumnya aku takut perasaan ini hanya merusak hubunganku dan Jani. Dia menatapku lama, tapa bicara. Aku juga hanya menatapnya, menunggu ada suara keluar dari mulutnya.
          Sempurna sudah kebisuan itu, gemericik air hujan, langit yang sendu, dan aroma petrichor yang semakin menyeruak. Tatap matanya yang tenang, degup jantung yang terus membuncah, menunggu jawab yang baik tentunya. Otakku yang berkerja didalam sana, merutuki perkataan yang entah kenapa bisa terlontar dengan sempurna seperti itu. Padahal, belum lama ini aku tahu kalau dirinya sedang bimbang juga akan seseorang. Seseorang yang berarti untuknya. Maka sudahlah, aku membiarkan semesta benar-benar bekerja hari ini. Apapun jawabannya aku harap semesta tidak akan membuat jarak yang menyebalkan diantara kami. Biarlah perasaanku, menjadi tanggung jawabku tanpa membuatnya merasa terbebani. Tak apa, aku bisa melewati fase jatuh cinta yang sepaket dengan lukanya.
           “Kamu?” ucap dia menggantung.
           “Iya Jani, entah kapan mulainya. Tapi aku tahu kalau aku suka sama kamu, sayang sama kamu. Bukan hanya sekedar kakak tingkat kamu, atau orang yang membimbing kamu. Tapi bener-bener sebagai seorang laki-laki memandang seorang perempuan” ucapku.
         “Maaf, aku gak bisa” tanpa berpikir dia meruntuhkan segala harapanku. Meskipun aku tahu besar kemungkinan jawaban seperti ini akan ia lontarkan.
        “Aku tahu, gak apa-apa. Kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah. Perasaanku adalah milikku dan itu menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Aku tahu ‘dia’ masih ada dihatimu bukan?” tanyaku, ah sial aku malah menambah luka dihatiku dengan cara bertanya tentang laki-laki itu.
            Dia hanya tersenyum, entah untuk jawaban yang mana.
             Sepertinya semesta memberikanku kesempatan untuk merasa tenang setelah semua perutukan bodoh pada diriku. Setelah semua pengakuan yang akhirnya harus memberikan rasa ikhlas, tidak menuntut apapun. Terimakasih semesta, setidaknya aku tahu bhawa perasaan tidak berbalas bukan lah sebuah kesalahan. Jani memelukku, tidak erat tapi hangat. Tidak romantis tapi juga tidak menangis, tidak sebagai sepasan kekasih tapi penuh kasih. Hebat memang perempuan ini, menolak seorang aku, Genta yang juga dielu-elukan banyak perempuan karena pintar, berprestasi, berkecukupan dan sudah mempunyai bisnis. Hebatnya lagi, Jani tidak basa-basi dengan segala ribuan alasan, atau alasan klasik seperti ‘Kamu terlalu baik buatku Genta’. Aku membalas pelukan tenang itu, berharap semua pengakuan ini tidak akan merubah apapun antara aku dan dia.
        “Milikku, kamu tidak usah ambil pusing Jani” ucapku setelah melepaskan pelukan itu. Kemudian bangkit, mengulurkan tangan padanya. Semoga dengan uluran tangan ini ia benar-benar mengetahui bahwa perasaanku adalah milikku, soal dia akan membalas atau tidak biarkanlah itu menjadi jawaban yang ada pada waktunya nanti.
               Dia menyambut tanganku kemudian tersenyum, setelah itu kami pergi dengan hujan gerimis yang indah.

Selanjutnya....
_________________________________________________________________________________
Maafkan penulisan yang tidak rapih, dan typo jika ada. Semoga suka, ini caraku menyembuhkan segala emosi yang bergejolak, segala klasifikasi tentang rasa kecewa, kesedihan, dan marah juga bahagia.
Salam membaca :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar