#02
Wajahnya
cantik, benar kata orang-orang. Ia memakai kaos merah dengan jaket jeans dan
celana berwarna coklat, kontras dengan kulitnya yang putih. Sepatu casualnya
terlihat cantik di kakinya. Ia menampilkan senyumnya saat berhadapan denganku.
Sungguh memang definisi Rinjani yang elok.
“Udah nunggu lama kak?” tanyanya.
“Engga kok baru sebentar” jawabku.
“Eh iya kenalin nama aku Rinjani”
“Aku Genta”
“Maaf ya kak jadi ngerepotin” ucap
Rinjani. Lalu entah kenapa kakiku melangkah begitu saja, padahal tidak tahu
juga akan kemana. Dia hanya mengikuti langkahku saja, entah kenapa juga dia
tidak bertanya apapun.
Akhirnya kakiku berhenti di
perpustakaan. Hari ini perpustakaan sepi, hanaya da 3-4 orang sedang
mengerjakan tugas sepertinya. Aku pun memilih meja di belakang rak sastra, meja
favoritku. Dengan kaca besar yang memperlihatkan kegiatan diluar dan dibawah
sana, menampakan langit biru atau terkadang sendunya langit beserta rintik atau
besar hujannya. Lagi-lagi dia hanya mengekor padaku, duduk didepanku.
“Emangnya kamu minta bantuan ke pak
Wira buat kkn kamu?” tanyaku.
“Engga kak, pak Wira yang
menyarankan. Terutama buat ketentuan bikin laporan kkn nya, memilih tempatnya
dan hal-hal yang detail lainnya” jawab Jani.
“Ohh, jadi belum dapet tempatnya?”
tanyaku.
“Belum kak, kan kuliahnya juga baru
mulai” dia menjawab sambal tersenyum, manis.
“Pak Wira bilangnya udah soalnya”
aku menjawab.
“Baru ada rencana aja kak ke
beberapa tempat”
“Mau tentang apa emangnya?”
“Tentang pendampingan tumbuh kembang
anak-anak kak” jawabnya lagi sambil tersenyum dengan manis.
“Terus rencana tempatnya?” tanyaku.
“Lingkungan sekolah yang memang
melibatkan banyak pertemuan aktif sama orangtua kak”
“Aku nanya nama tempatnya”
“Sekolah Mutiara Buah Hati, sekolah
buat anak SD-SMP” jawab Jani.
“Udah masuk surat izinnya? Itu plan
utama kamu? Mau langsung coba plan utama?” tanyaku
“Iya kak, udah aku masukin surat
izinnya. Balasan nya lewat email, sore ini”
“Kamu sendiri kkn nya?”
“Sama 3 temen lainnya kak”
“Siapa?”
“Oka, Nanda, sama Ira”
“Yaudah ini nomor aku, kalau perlu
bantuan chat aja. Kirim bukti surat izin kamu disetujui atau enggak ke nomor
ini” aku menjelaskan, kemudian memebrikan secraik kertas yang berisikan
nomorku.
“Iya kak, makasih” senyumnya tetap
manis.
“Ada yang mau ditanyain lagi?”
tanyaku.
“Gak ada kak, makasih banyak”
senyumnya memang indah. Aku mengangguk kemudian meninggalkannya dimeja itu.
Hanya saja sebenarnya aku
memperhatikannya dari jauh, dari balik rak-rak buku yang menjulang tinggi itu.
Jani tampak lurus menatap kedepan, aku tidak tahu seperti apa sorot matanya.
Tidak lama kemudian ia menidurkan kepalanya di meja, menghadap kaca transparent
yang besar itu. Padahal beberapa menit yang llau, senyumnya begitu manis, ceria
gurat wajahnya, gerak-gerik tubuhnya pun terlihat ringan. Lalu kenapa sekarang
ia seolah menanggung beban yang begitu berat? Jani yang aku lihat beberapa
menit lalu seperti berganti begitu saja entah dengan siapa.
***
Sudah lebih dari 3 minggu aku
membantu atau bisa dibilang membimbing Jani. Surat izin dia ternyata disetujui,
sesekali juga aku menemaninya di sekolah tersebut. Jani terlihat riang jika
dikumpulkan dengan anak-anak SD yang masih menggemeaskan itu, lalu ia juga
terlihat sebagai sosok kakak jika disandingkan dnegan anak-anak SMP. Sungguh
dia adalah perempuan yang cantik dengan segala karakter dirinya. Meskipun
terkadang, memang masih terlihat sorot matanya yang kosong, atau Jani yang
tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sendu.
“Jani” panggilku saat ia tengah di
kantin dnegan buku dan minumannya, disampingnya telihat Ira, dan temn-temannya.
Kemudian aku pun duduk di sebelahnya.
“Kak Genta mau ikut lagi?” tanya
Ira.
“Kalian berangkat jam berapa
emangnya?” tanyaku.
“20 menitan lagi berangkat lah
kira-kira. Tapi kalau Jani nyusul katanya, dia mau nyari buku dulu buat anak
disana” Ira menjelaskan.
“Buku?” aku menatap Jani, meminta
jawaban.
“Iya, kamu tau Bella? Anak SD kelas
3, dia suka baca buku” jawabnya.
“Nanti yang lain iri dong” jawab
Ira.
“Ya aku kasihnya diem-diem, aku rasa
dia gak kayak anak SD pada umumnya, yang riang. Dia nyembunyiin sesuatu” Jani
menjelaskan.
“Apa?” tanya Ira lagi.
“Ya itu lagi aku cari tahu Ira
sayang” jawab Jani lagi.
“Yaudah kamu sama aku aja nyari
bukunya, nanti biar kesekolahannya bareng” ucapku menawarkan.
“Tar aku ngerepotin” Jani menatapku.
“Engga lah, aku juga gak
ngapa-ngapain lagian. TA ku juga bentar lagi rampung” aku menjelaskan.
“Enak ya kak” ucap Ira.
“Iya maka nya kalian semangat. Jangan
panggil kak dong, masih muda nih gua” ucapku.
“Iya-iya, eh tapi kenapa lu cuman
bilang aku kamu ke Jani aja?” tanya Ira iseng.
“Kepo ah, udah ah gua mau lapang
basket dulu bentar. Yuk Jan, biar gak kelamaan nyari bukunya” ajakku. Kemudian
Jani mengangguk dan berpamitan pada teman-temannya.
Kami berjalan beriringan, sesekali
mata kami saling bertemu. Aku juga mahasiswa jurusan psikologi tentunya, tapi
entah kenapa sikap Jani yang sendu dan riang rapih tersimpah, tanpa ce;a
berganti. Seolah-olah, memang smeua itu adalah hal yang wajar.
“Hai Jani” ucap teman-temanku
bersamaan.
“Hai kak” Jani menjawab dengan
sopan.
“Nih, baca yang bener, buruan TA
selesaiin” aku bebricaya pada Jerry.
“Iya bos siap, makasih ye” ucap
Jerry.
“Yaudah sana pada masuk kelas, 2
menit lagi lu pada telat entar. Tar kena omel lagi” aku memberitahu
teman-temanku.
“Iye, udah yuk kelas ah” ucap Jerry
menagjak yang lain, kemudian mereka pergi. Baru saja kakiku dan kaki Jani akan
melangkah meninggalkan tribun lapangan, hujan rintik-rintik turun, tidak deras
tapi jika di lawan akan cukup membuat pakaianku dan Jani basah. Aroma petrichor
tercium menenangkan. Tentu aku dan Jani menghentinkan langkah kami.
Baru saja aku ingin mengucap, namun
tingkah Jani membuatku mengurungkan niatku itu. Jani mengulurkan tangannya,
membiarkan tangannya basah dijatuhi rintik hujan. Sekedar informasi, lapangan
basket di kampusku ada dua. Satu yang sedang kami pijak, dnegan lapangan
terbuka dan bisa dibilang lapangan serbaguna, ada ring basket, gawang, dan
tiang-tiang yang bisa lepas pasang, tiang tersebut untuk net Volly biasanya.
Satu lagi lapangan khusus basket, indoor nyaman. Hanya saja aku dan
teman-temanku lebih suka nongkrong di lapangan terbuka, salah satu alasannya
karena ada yang merokok diantara kami.
Jani mengulurkan tangannya, kemudian
menghirup dalam-dalam aroma petrichor. Matanya terpejam, seperti
menenangkan diri, meredam segala apa yang terpendam. Kemudian sesimpul senyuman
itu menghiasi bibirnya. Senyumnya indah, manis namun secara bersamaan terlihat
sendu.
“Coba deh, enak tau” tiba-tiba di
berbicara.
“Apa?” aku tidak mengerti.
“Hirup dalem-dalem, tutup matanya,
ulurin tangannya. Rasain, semesta lagi bekerja dengan semua kisah bermiliaran
manusia yang tanpa ampun meminta dan berharap, juga bagusnya berjuang” dia
menjelaskan dengan posisi yang masih sama. Kemudian aku pun melakukan apa yang
dikatakannya. Memang benar, tenang rasanya menikmati semesta bekerja.
“Hujan nya makin deres, yuk naik ke
tribun atas” ucapku pada Jani. Kemudian dia membuka matanya dan mengikutiku.
“Aku boleh tanya sesuatu gak?”
tanyaku saat dirinya sedang menatap lurus kedepan.
“Apa?”
“Kenapa senyum kamu dan sedih kamu
berada dalam waktu yang bersamaan tadi?” tanyaku.
“Maaf aku lancing” aku menambahkan.
“Karena Rinjani yang sebenernya
memang begini, yang punya sisi sedih juga yang kadang pengen oranglain tahu
juga. Biar aku punya pegangan” jawabnya.
“Boleh aku jadi pegangan kamu, dan
memegang kamu?” tanyaku, ah sial entah kenapa hari ini aku seberani ini.
Padahal sebelumnya aku takut perasaan ini hanya merusak hubunganku dan Jani.
Dia menatapku lama, tapa bicara. Aku juga hanya menatapnya, menunggu ada suara
keluar dari mulutnya.
Sempurna sudah kebisuan itu,
gemericik air hujan, langit yang sendu, dan aroma petrichor yang semakin
menyeruak. Tatap matanya yang tenang, degup jantung yang terus membuncah,
menunggu jawab yang baik tentunya. Otakku yang berkerja didalam sana, merutuki
perkataan yang entah kenapa bisa terlontar dengan sempurna seperti itu.
Padahal, belum lama ini aku tahu kalau dirinya sedang bimbang juga akan
seseorang. Seseorang yang berarti untuknya. Maka sudahlah, aku membiarkan
semesta benar-benar bekerja hari ini. Apapun jawabannya aku harap semesta tidak
akan membuat jarak yang menyebalkan diantara kami. Biarlah perasaanku, menjadi
tanggung jawabku tanpa membuatnya merasa terbebani. Tak apa, aku bisa melewati
fase jatuh cinta yang sepaket dengan lukanya.
“Kamu?” ucap dia menggantung.
“Iya Jani, entah kapan mulainya. Tapi
aku tahu kalau aku suka sama kamu, sayang sama kamu. Bukan hanya sekedar kakak
tingkat kamu, atau orang yang membimbing kamu. Tapi bener-bener sebagai seorang
laki-laki memandang seorang perempuan” ucapku.
“Maaf, aku gak bisa” tanpa berpikir
dia meruntuhkan segala harapanku. Meskipun aku tahu besar kemungkinan jawaban
seperti ini akan ia lontarkan.
“Aku tahu, gak apa-apa. Kamu gak
perlu minta maaf, kamu gak salah. Perasaanku adalah milikku dan itu menjadi
tanggung jawabku sepenuhnya. Aku tahu ‘dia’ masih ada dihatimu bukan?” tanyaku,
ah sial aku malah menambah luka dihatiku dengan cara bertanya tentang laki-laki
itu.
Dia hanya tersenyum, entah untuk
jawaban yang mana.
Sepertinya semesta memberikanku
kesempatan untuk merasa tenang setelah semua perutukan bodoh pada diriku.
Setelah semua pengakuan yang akhirnya harus memberikan rasa ikhlas, tidak
menuntut apapun. Terimakasih semesta, setidaknya aku tahu bhawa perasaan tidak
berbalas bukan lah sebuah kesalahan. Jani memelukku, tidak erat tapi hangat. Tidak
romantis tapi juga tidak menangis, tidak sebagai sepasan kekasih tapi penuh
kasih. Hebat memang perempuan ini, menolak seorang aku, Genta yang juga
dielu-elukan banyak perempuan karena pintar, berprestasi, berkecukupan dan
sudah mempunyai bisnis. Hebatnya lagi, Jani tidak basa-basi dengan segala
ribuan alasan, atau alasan klasik seperti ‘Kamu terlalu baik buatku Genta’. Aku
membalas pelukan tenang itu, berharap semua pengakuan ini tidak akan merubah
apapun antara aku dan dia.
“Milikku, kamu tidak usah ambil
pusing Jani” ucapku setelah melepaskan pelukan itu. Kemudian bangkit,
mengulurkan tangan padanya. Semoga dengan uluran tangan ini ia benar-benar
mengetahui bahwa perasaanku adalah milikku, soal dia akan membalas atau tidak biarkanlah
itu menjadi jawaban yang ada pada waktunya nanti.
Dia menyambut tanganku kemudian
tersenyum, setelah itu kami pergi dengan hujan gerimis yang indah.
Selanjutnya....
_________________________________________________________________________________
Maafkan penulisan yang tidak rapih, dan typo jika ada. Semoga suka, ini caraku menyembuhkan segala emosi yang bergejolak, segala klasifikasi tentang rasa kecewa, kesedihan, dan marah juga bahagia.
Salam membaca :)
Selanjutnya....
_________________________________________________________________________________
Maafkan penulisan yang tidak rapih, dan typo jika ada. Semoga suka, ini caraku menyembuhkan segala emosi yang bergejolak, segala klasifikasi tentang rasa kecewa, kesedihan, dan marah juga bahagia.
Salam membaca :)