Senin, 17 Februari 2020

Semesta Berbaik Hati, Pada Waktunya

#01
            Anggap saja aku Genta, seorang laki-laki yang bercerita tentang seseorang yang ada disampingku, hidupnya berwarna, ceria, namun ternyata memang sampul tidak selalu benar. Belakangan ini aku tahu dia menyimpan sesuatu yang sedih, tapi tenang aku tidak pernah memaksanya bercerita. Lalu aku tau darimana? Aku mengetahuinya dari kebersamaan kami, ditengah tawanya terkadang ia mendadak terdiam, sorot matanya tiba-tiba sendu, kosong, gurat dan sorot kesedihan itu menggantikan wajah tawanya.
            Jangan tanyakan bagaimana reaksiku kali pertama, tentu kaget. Aku takut ada sesuatu yang salah dalam percakapan kita. Kemudian pernah kali itu aku bertanya padanya.
“Kenapa? Ada yang salah ya sama omonganku? Ko tiba-tiba sedih gitu”
“Gak apa-apa Ta” jawabnya kemudian sesimpul senyum indah itu terhias lagi dibibirnya.
            Lalu aku ceritakan pada kalian saat ini, kisah perempuan yang diam-diam aku kagumi, rasanya ingin ku enyah kan segala sesuatu yang membuatnya bersedih. Ah tidak, nyatanya semakin waktu tergerus, dia tahu kenyataan tentang perasaanku.
            Panggilan perempuan itu adalah Rinjani, aku biasa memanggilnya Jani. Rasanya aku menyukai segala tentangnya, aku tahu kalian akan menganggapku bucin. Terserah, aku tidak peduli, karena ini perasaanku, aku tidak butuh tanggapan kalian, maaf. Biarkan aku bertanggungjawab penuh atas perasaanku, tanpa ikut campur dia sekalipun. Karena itu aku juga tidak masalah jika dia tidak membalas perasaanku, perasaanku adalah miliku, dan tanggung jawabku. Semoga itu bisa kalian nilai dengan definsi mencintai dan merasa dengan tulus dan ikhlas. Tentu sulit rasanya tidak berharap pada dia, membiarkan perasaanku padanya begitu saja, menunggu semesta merubah hatinya. Sulit tapi bukan tidak mungkin, buktinya sampai sejauh ini aku membiarkan dia sepenuhnya memilih orang-orang untuk hatinya.
            Laksana Rinjani yang menjulang indah, elok namun gagah berdiri. Jani pun seperti itu, indah periangainya, cantik wajahnya, tegar berdiri gagah, mandiri definisi menurut yang aku gambarkan. Namun laksana Rinjani yang diguyur hujan, diterpa angin dan badai sekali pun, keelokannya tetap teringat dibenak, dimata keelokannya tetap terpampang dengan jelas bagi orang yang dapat menyelami lebih dari kesedihan yang nampak, yang dapat mengartikan kesedihan bukan hanya sekedar masa kelam bagi seseorang.
            Bermula dari kegiatan yang aku bilang adalah sebuah keterpaksaan. Koridor kampus, tempat kami bersuara pertama kali. Perpustakaan tempat aku dan dia pertama kali, bercakap lama. Lapangan basket kampus, tempat pertama kali aku lihat gurat kesedihan itu.
***
            “Kamu kenal adek tingkat kamu? Namanya Rinjani” ucap wali dosenku.
           “Saya hanya tahu nama saja pak” aku menjawabnya, aku memang hanya mengetahui namanya saja dari beberapa teman-temanku. Mereka membicarakan Rinjani, seorang gadis dengan karakter yang unik. Bisa dibilang ia adalah pujaan senior laki-lakinya ataupun teman angkatannya. Namun anehnya, aku belum pernah bertemu dengan gadis itu secara langsung. Mengenalinya dari wajahnya pun belum, hanya mengenal namanya saja, seperti yang aku bilang tadi.
           “Yaudah kamu cari dia, terus bantu saya buat bimbing dia. Dia lagi kkn soalnya. Gimana kamu mau?” tanya pak Wira.
         “Boleh pak” dan kali ini aku lebih aneh, entah kenapa aku menjawabnya tanpa ragu. Padahal wajahnya yang mana saja aku belum tahu. Aku juga tidak tahu kenapa pak Wira memilihku.
           “Bentar lagi siang jam 2, temui saja dia. Ini nomornya, kemarin saya sudah menyuruh dia buat nunggu di koridor jurusan” pak Wira memberitahu lagi.
        “Baik pak, nanti saya tunggu di koridor jurusan. Saya pamit kalau begitu pak” ucapku, kemudian salim.
       Setelah keluar dari ruangan beliau, aku membuka handphoneku dan membuka aplikasi Instagram. Aku mulai mencari nama ‘Rinjani’, tapi ternyata banyak sekali nama serupa. Akhirnya aku memutuskan untuk menelpon salah satu temanku.
            “Lu dimana?” tanyaku.
            “Gua di lapang basket” jawab Jerry.
            “Gua otw situ, tunggu lu” ucapku, kemudian mematikan sambungan teleponku dengan Jerry. Sesampainya disana, aku melihat segerombolan laki-laki, yang aku tahu itu adalah Jerry dan teman-temanku yang lainnya.
            “Kenapa?” tanyanya saat aku sudah sampai digerombolan.
            “Instagram si Rinjani yang mana dah? Banyak amat si nama dia di IG” ucapku.
            “Eh buset kesambet apa dah lu, tiba-tiba nanyain Rinjani. Kan ujung-ujungnya kepincut juga lu sama dia”
            “Kaga, gua disuruh bimbing dia KKN, sama pak Wira, dia juga adek wali dosen gua, kita sama wali dosen nya” aku menjelaskan.
            “Hilih padahal sama gua aja ya” ucap Tomy.
            “Udah buruan yang mana sih” aku mengeluarkan hpku, kemudian mulai mengetikan nama “Rinjani”.
            “Tuh yang kedua dari atas, yang fotonya pake baju krem, rambutnya digerai” ucap Jerry. Kemudian aku mengklik profilnya. Terpampanglah foto-foto dirinya, ada yang ebrsama temannya, fotonya sendiri, foto selfie, pemandangan dan maish banyak lagi. Benar ternyata, Rinjani yang cantik, senyumnya seelok namanya.
            “Kan cantik, liatinnya biasa aja dong woi” jawab Tomy.
            “Dah ah, bentar lagi jam 2 gua janjian mau ketemu dia” ucapku kemudian pergi.
            “Kampret emang tuh bocah, enak banget ya bimbing adek tercinta gua” ucap Gilang.
            “Genta mah otaknya encer makanya disuruh bimbing, emang lu” Jerry menjawab ucapan Gilang.
            Aku memainkan hanpdhoneku, saat menunggu gadis tersebut, tepatnya aku melihat-lihat profil instagramnya. Ada beberapa stories Instagram yang ia simpan di highlightnya. Aku tertarik dengan judul ‘Tentang Baris’.
            “Selalu tentang kita, bukan kita dalam artian kamu dan aku. Tapi kita dalam artian aku yang dibaca banyak orang. Ah sederhanakan saja, tentang diri sendiri. Bergelut melawan emosi, atau bergelut memilih meredamnya. Berharap tidak ada bom waktu disana”-R
            “Karena kita tidak akan pernah tahu kehidupan seseorang yang dalam, hanya dengan melihat permukaannya saja”-R
            “Bahagia itu dibuat katanya, bukan hadir dengan begitu saja”-R
            “Boleh kok lelah, tapi jangan menyerah”-R
            Itu salah satu kalimat-kalimat yang ia buat dengan background yang juga tidak kalah indahnya. Kemudian aku melihat-lihat videonya bersama teman-teman, ada yang sedang bernyanyi, ada yang diambil di kelas dan masih banyak lagi.
            “Permisi” suaranya perempuan, dan aku rasa dia ada disampingku. Buru-buru aku mematikan layer handphoneku.
            “Ya?” jawabku
            “Kak Genta ya?” tanyanya.
            “Iya, kamu Rinjani?” tanyaku.
            “Iya kak” ucapnya.
            …, Cerita Bersambung.
Terimakasih sudah membaca, ide ditengah kegabutan dan keruwetan hari ini. Semoga semua bisa terurai, sabar yah :)
Instagram : ridhaz14
wattpad    : dhzhjr
Selamat membaca, salam membaca :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar